separate
KIAT (Kumpulan Kisah dan Untaian Nasehat) berisi deretan kisah-kisah terbaik sepanjang zaman sejak Manusia pertama Nabi Adam hingga sekarang
banner ad
logo

Thursday, November 29, 2012

Abu Ubaid

Ummu Sulaim : Pemilik Mahar Termulia


Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam bersabda:
Ketika aku memasuki surga, aku mendengar suara langkah kaki, lalu aku bertanya: “Siapa itu?” Malaikat menjawab: “Itu Ghumaisho’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim: 4494)

Nama aslinya adalah Ghumaisho’ dan juga dipanggil dengan Rumaisho’ binti Milhan dari kaum Anshar, atau yang lebih dikenal dengan kunyahnya yaitu Ummu Sulaim. Ia adalah sosok wanita yang selalu dekat dengan Rasulullah.

Sungguh besar sekali rasa irinya ketika melihat orang lain melakukan kebaikan dan amalan shalih. Ummu Sulaim, saat melihat orang-orang menyambut kedatangan Rasulullah yang hijrah dari Makkah tiba di Madinah.

Mereka menemui beliau dengan membawa hadiah sebagai ucapan selamat datang. Ia berpikir apa yang akan ia hadiahkan kepada Rasulullah, sedangkan ia tidak memiliki harta yang dapat dihadiahkan, sebab ia hanya seorang janda miskin yang ditinggal mati suaminya. Suaminya hanya meninggalkan untuknya seorang putra, … sampai di sini pikirannya tersentak, sadar bahwa ternyata ia memiliki sesuatu yang sangat berharga. Ya, …seorang putra! Ia berpikir mengapa tidak ia hadiahkan saja putranya, Anas, yang sedari kecil telah Rasulullah talqinkan dua kalimat syahadat kepadanya, sehingga membuat suaminya, Malik bin Nadhar, yang musyrik menjadi marah dan menghardiknya (seraya berkata): “Jangan engkau hancurkan kehidupan anakku!” Ummu Sulaim membantah: “ Justru sebaliknya, saya menyelamatkannya.”

Semenjak itulah suaminya pergi meninggalkannya sampai ia meninggal di negeri Syam.

Dengan menggandeng Anas kecil, Ummu Sulaim menuju kediaman Rasulullah. Tatkala bertemu dengan Rasulullah, Ummu Sulaim mengucapkan salam dan ucapan selamat datang, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, semua orang Anshar, laki-laki dan perempuan telah memberimu hadiah, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk kuhadiahkan kepadamu selain putraku ini. Ambillah ia menjadi pelayanmu.” Rasulullah memandang Anas dengan kasih sayang dan dengan lembut sembari mengelus rambutnya. Beliau menerima Anas yang baru berumur sepuluh tahun itu dengan gembira.

Sebagai janda yang cantik, cerdas dan baik akhlaknya, tidak heran bila Ummu Sulaim menjadi janda kembang yang menjadi incaran para lelaki. Abu Thalhah (Zaid bin Sahal) ketika mendengar bahwa Ummu Sulaim telah menjadi janda, ia langsung mendatanginya untuk melamarnya menjadi istri. Ia khawatir ada orang lain yang mendahuluinya. Namun, impiannya untuk menjadikannya sebagai istri melayang terbawa angan-angan. Ia yakin Ummu Sulaim tak akan menolaknya karena ia adalah seorang bangsawan yang kaya raya, di samping itu ia juga seorang ksatria mumpuni dan ahli memanah. Dengan tekad yang bulat, Abu Thalhah menemui Ummu Sulaim di rumahnya, lalu dengan sopan ia meminta izin masuk. Di rumah itu ia disambut oleh Ummu Sulaim dan putranya, Anas. Tidak lama setelah itu, ia langsung mengajukan lamaran, lantas Ummu Sulaim pun menjawab: “Orang sepertimu tak mungkin ditolak, hanya saja saya tidak boleh menikah dengan orang kafir.”

Abu Thalhah mengira bahwa Ummu Sulaim hanya mencari alasan saja dan telah ada lelaki lain yang lebih kaya atau lebih terhormat darinya yang lebih dahulu melamarnya. Lalu ia berkata kepadanya: “Apa alasanmu tidak menerima pinanganku? Apa kamu ingin emas dan perak?” Ummu Sulaim bertanya keheranan: “Emas dan perak?” Abu Thalhah menjawab: “Benar.” Ummu Sulaim berkata: “Sama sekali bukan karena itu. Demi Allah, jika engkau mau masuk Islam maka aku rela menjadi istrimu, dan ke-Islamanmu menjadi mahar bagiku, bukan emas dan perak.”

Ketika mendengar ucapan Ummu Sulaim, seketika itu Abu Thalhah teringat berhalanya yang terbuat dari kayu yang biasa ia sembah di rumah. Ummu Sulaim tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, lantas ia berkata: “Wahai Abu Thalhah, apakah engkau tidak tahu bahwa Ilah yang engkau sembah selain Allah itu hanyalah sekedar kayu yang tumbuh dari bumi?” Ia menjawab: “Benar.” Ummu Sulaim melanjutkan: “Apakah engkau tidak merasa malu menyembah sebatang kayu yang engkau jadikan sebagai Ilah, sedang orang lain menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menghangatkan badan atau memasak roti. Wahai Abu Thalhah, jika engkau masuk Islam, aku akan rela menjadi istrimu dan aku tidak menginginkan mahar selainnya.” Abu Thalhah terdiam sejenak, lalu berkata: “Bagaimana caranya?” Ia menjawab: “Dengan mengucapkan: Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah.” Dengan dua kalimat syahadat itulah, akhirnya Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim, yang mana tak ada mahar yang paling mulia dari mahar Ummu Sulaim.

Rumah Ummu Sulaim adalah satu-satunya tempat yang dimasuki Rasulullah selain rumah istri-istri beliau. Pernah ditanyakan kepada Rasulullah mengapa beliau sering berkunjung ke rumah Ummu Sulaim, maka beliau menjawab: “Aku kasihan kepadanya karena saudaranya Haram bin Milhan terbunuh .”  Suatu kali, ketika ia datang berkunjung, beliau melihat putra Abu Thalhah yang bergelar Abu Umair sedang bersedih. Lantas beliau bertanya kepada Ummu Sulaim: “Mengapa Abu Umair bermuka masam?” Ummu Sulaim menjawab: “Karena burungnya yang bernama Nughair mati.” Kemudian Rasulullah menemuinya dan berkata: “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada Nughoir?” (Dalam pertanyaan Rasulullah kepada Abu Umair ini terdapat penjelasan bagi kita tentang bagaimana sifat kasih sayang Rasulullah. Beliau sebagai manusia yang paling mulia juga bercengkrama dengan anak-anak.)

Setelah kejadian itu, Abu Umair jatuh sakit. Ketika Abu Thalhah tidak di rumah, anak kesayangannya itu meninggal. Kemudian Ummu Sulaim memandikan dan mengafaninya, lalu menutupinya dengan kain. Kemudian berkata kepada keluarganya: “Jangan kalian beritahukan kepada Abu Thalhah, biarlah aku sendiri yang mengabarinya.”

Ketika Abu Thalhah datang, Ummu Sulaim memakai wewangian dan berhias, lalu menghidangkan makan malam. Setelah makan, Abu Thalhah bertanya kepada Ummu Sulaim: “Bagaimana keadaan Abu Umair?” Ia menjawab: “Ia telah tenang sekarang.” Setelah itu, Abu Thalhah mendatangi  istrinya.

Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila satu keluarga dipinjami sebuah titipan, lalu pemiliknya memintanya kembali, apakah mereka harus mengembalikannya atau mempertahankan?” Abu Thalhah menjawab: “Mereka harus mengembalikannya.” Ummu Sulaim berkata: “Abu Umair telah meninggal, maka bersabarlah.”

Dengan marah Abu Thalhah menghadap Rasulullah dan menceritakan semua kejadian itu. Lalu Rasulullah berkata: “Semoga Allah memberkahi malam kalian.” Setelah itu Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Kemudian Anas membawanya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah mentahniknya dengan kurma (yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit – langit mulut si bayi), dan dengan lahapnya bayi itu mengulum kurma yang dimasukkan ke mulutnya. Rasulullah berkata: “Perhatikanlah, bagaimana sukanya kaum Anshar terhadap kurma.”

Beliau kemudian menamainya Abdullah, dan tidak ada generasi Anshar yang lebih bagus darinya. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Thalhah mempunyai tujuh orang anak laki-laki yang semuanya hafal al-Quran.

Dalam hal keberanian, Ummu Sulaim juga memiliki peran yang sangat mengagumkan. Ketika terjadi Perang Hunain, ia keluar membawa sebilah belati. Lalu Abu Thalhah mengadukan hal itu kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, Ummu Sulaim membawa belati.” Mendengar itu, Ummu Sulaim langsung berdalih: “Wahai Rasulullah, aku membawanya bila ada orang musyrik yang mendekatiku, maka aku akan membelek isi perutnya.”

Semoga Allah meridhoi Ummu Sulaim, Ghumaisho’ binti Milhan.

Sumber : kisahislam.net

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda

logo
Copyright © 2012 KIAT .
Blogger Template by Clairvo